QUOTE

...lalu aku sudah berjalan dengan kilometer jalan yang hebat dan besar, hingga aku akhirnya tiba pada suatu titik...aku rindu..dan aku katakan: tariklah aku! Jika memang ini dariMu, biarkan ini yang terakhir dan sungguh-sungguh, meski harus menderita...


...bagiku, bukan kesucian yang akan membawa kita kepada Surga tetapi ketulusan..apapun ketulusan itu ia akan seperti biji sesawi yang akan memindahkan semua gunung di dunia ini ke dalam hatimu...


...dan ketika ku mati, setidaknya ada satu yang akan memandangku...langit, entahlah dengan matahari atau bulannya...


michael carlos

Tuesday, June 4, 2013

DIPO ALAM: PEMBANTU PRESIDEN ATAU PEMBANTU NEGARA (RAKYAT) ?

Memilih untuk diam, itulah yang saya lakukan beberapa hari sejak Appeal of Conscience Foundation, sebuah organisasi yang menamakan diri pembela hak-hak asasi manusia memberikan penghargaan tertingginya untuk Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia. Presiden menerima penghargaan bertitel World Statesman Award itu dari bekas Menlu AS dan seorang Rabbi Yahudi pendiri organisasi itu di Amerika Serikat akhir pekan lalu.

Tampaknya tidak ada tanggapan berarti dari seorang Presiden yang sedang melakukan perjalanannya ke Amerika untuk menerima penghargaan itu. Presiden dalam tugas kenegaraannya, kebetulan menghadiri upacara penyerahan penghargaan tersebut. Eksistensi waktu Presiden di Negara itu tentu penuh dengan seremoni yang begitu membanggakan, berbanding terbalik dengan situasi tanah air yang begitu ‘berisik’ dengan masalah ‘mengapa Presiden harus mendapatkan penghargaan itu?’.

Kita lupakan situasi Presiden dan rombongan ketika berada dalam lawatan ke Amerika Serikat tersebut. Kini, saya ingin melihat ‘kisruh’ yang tak pantas di tanah air.

Syafii Maarif, Setara Institute dan Frans Magnis Suseno SJ, adalah tiga saudara Indonesia yang melayangkan protes mereka atas pemberian penghargaan ACF untuk Presiden. dalam suara yang hampir sama, mereka mempertanyakan motivasi yang mendorong ACF memberikan peghargaan yang dinilai tak pantas untuk seorang Presiden yang tidak berusaha dengan sungguh-sungguh ‘sekadar menoleh dan bertindak sedikit’ untuk banyaknya eksistensi intoleransi di Negara yang dipimpinnya.

Protes paling keras disampaikan Frans Magnis Suseno SJ. Darah Jerman yang lalu menjadi sangat Jawa dan sangat Indonesia ini adalah Guru Besar Etika yang memandang bahwa pemberian World Statesman Award ini salah alamat. Suseno melayangkan surat kepada ACF dengan mengemukakan banyak bukti maraknya intoleransi yang terjadi di Indonesia. Bagi saya, protes Imam Jesuit ini beralasan, dari konteks etis, mana mungkin sebuah bangsa yang masih melakukan banyak diskriminasi terhadap minoritasnya justeru diberikan sebuah penghargaan.

Yang menarik dari protes Suseno ini adalah reaksi Dipo Alam, sang Pembantu Presiden yang mati-matian membela Kepala Negara. Bagi saya, ini juga wajar. Dipo harus membela bosnya. Tapi pembelaan Dipo tak sama esensinya dengan sikap diam Presiden dikala protes dilayangkan kepadanya. Presiden berupaya memberi keterangan yang diplomatis tentang alasannya menerima penghargaan tersebut, Dipo sebaliknya ‘berbibir’ yang tak pantas selayaknya Presiden yang berusaha diplomatis. Pembelaan Dipo ini justeru mengundang kontroversi. Menggunakan inisial FMS (Frans Magnis suseno), Dipo menempatkan Presiden sebagai simbol Negara yang mengaku Pancasilais ini ke dalam kubu golongan tertentu. Dipo dengan gamblang lalu salah kaprah karena menempatkan Presiden ke daam kubu Muslim dan FMS sebagai kubu non-muslim. Ini kesalahan besar dari sebuah pernyataan Pembantu Presiden semua warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejatinya, Presiden adalah pemimpin semua warga dari berbagai agama yang berbeda. Tak pantas bagi Dipo melakukan distingsi. Dipo seharusnya menempatkan dirinya ke dalam bagian Rakyat yang memprotes sekaligus Presiden yang beralasan diplomatis. Artinya Dipo seharusnya memilih diam dan tidak usah mengeluarkan pernyataan yang justeru semakin memperkeruh suasana. Seharusnya Dipo sadar bahwa ketika ia disumpah untuk menjabat jabatan Negara, ada tugas penting yang ia harus lakukan yakni menjaga keutuhan dan keharmonisan NKRI sebagai sebuah bingkai persatuan yang di dalamnya terdapat begitu banyak kepentingan Suku, Agam dan Ras yang dikumpulkan menjadi sebuah bangsa. Dipo harus sadar bahwa ia adalah pembantu Presiden sebuah Negara Pancasila, bukan sebaliknya mengemukakan grup-grup golongan dan mengkomparasikannya dalam sebuah pernyataan: non muslim dan muslim.

Sepertinya Dipo Alam harus mengerti benar esensi berbangsa Indonesia dan melihat bahwa pernyataan Frans Magnis Suseno SJ sebagai sebuah hal biasa dalam berdemokrasi. Bagaimanapun dari konteks etika berbangsa, benar bahwa Suseno adalah Rakyat Indonesia yang hanya berpendapat sesuai kenyataannya yang dilihatnya.

Suseno sendiri sebagai seorang Katolik menempatkan dirinya sebagai bagian Bangsa yang melihat diskriminasi terhadap kaum tertentu yang justeru bukan Katolik. Artinya, Suseno sendiri menempatkan dirinya tepat pada tempatnya. Ia menuntut Presiden untuk melihat bahwa ada diskriminasi dan situasi intoleransi yang dialami oleh warga Ahmadiyah, Syiah dan Kristen. Ada persoalan sulitnya kebebasan beragama bagi Ahmadiyah di Cikeusik dan Kuningan dan berbagai tempat di Indonesia. Ada kesulitan bagi warga Syiah di Madura. Ada kesulitan mendapatkan tempat beribadah bagi warga Kristen di Yasmin Bogor dan Bekasi.

Pertanyaan untuk Dipo: apakah Ahmadiyah, Syiah dan Kristen bukan bagian dari Indonesia? Saya pikir Presiden paham hal ini. Maka tepat bagi Presiden dalam pidato penerimaan penghargaan tersebut, bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan Bangsa Indonesia agar alam hidup demokrasi Indonesia benar-benar nyata terlaksana dan tidak tepat bagi Dipo karena dengan pernyataannya justeru semakin memperkeruh suasana.


Presiden SBY, Dipo Alam dan Frans Magnis Suseno SJ adalah Indonesia. Ini hal biasa dalam membangun demokrasi. Jangan sampai salah ucap dan akhirnya menyia-nyiakan usaha-usaha banyak pihak mengusahakan kesatuan dan persatuan Indonesia selama ini.

No comments:

BERITA DARI YAHOO!!!